26.4 C
Banda Aceh
spot_img

TERKINI

Mengingat Badak Lewat Goresan Kuas

Generasi muda saat ini sudah tidak lagi akrab dengan badak. Padahal satwa endemik ini pernah dan masih hidup di Sumatra, tetapi jumlahnya sangat sedikit. Mengkhawatirkan.

+++

OPAL duduk bersila di depan salah satu ruang dari Gedung Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Syiah Kuala (USK). Tangan remaja laki-laki itu terlihat memandu kuas seukuran pena menari di atas kanvas, mengikuti lekukan tubuh gambar seekor badak.

Sesekali, kuas itu dicolek ke salah satu kolom palet yang telah diisi cat abu-abu. Kemudian tangan siswa yang mengenakan seragam batik sekolah itu kembali meliuk di lantai kanvas. Sketsa lukisan mulai jelas terlihat wujudnya.

Lukisan yang dikerjakan Opal sejak bakda Salat Zuhur itu menampilkan dua badak. Satu badak dilukis secara penuh, sedangkan satunya lagi hanya sebatas kepala lengkap dengan dua cula.

Salah satu badak tampak berdiri di sebuah pulau yang hijau. Pulau itu dikelilingi lautan yang diartikan oleh sang pelukis sebagai bumi. Latar lukisan dibubuhkan warna jingga. Seumpama langit akhir. Jelang menutup hari sebelum gelap menyelimuti sisi bumi.

Begitulah siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 4 Aceh Besar yang memiliki nama lengkap Opal Duana itu menyalurkan hobinya dalam memperingati Hari Badak Sedunia, pada 22 September. Ia ikut serta sebagai peserta melukis dari kegiatan Forum Konservasi Leuser (FKL), salah satu lembaga yang fokus terhadap isu lingkungan di Aceh.

“Karena kita menyambut Hari Badak Sedunia kita buat lukisan kampanye untuk mengingatkan jangan sampai Badak itu punah dari bumi,” kata Opal.

Ketika ditanyakan makna dari lukisannya, Opal hanya menyampaikan bahwa pemerian dua ekor badak, bumi, serta langit jingga, menandakan bahwa status salah satu satwa dilindungi tersebut mulai punah. Jumlahnya bahkan tidak banyak lagi. Sehingga menjadi kekhawatiran sendiri baginya.

“Bisa dibilang seperti sudah akhir dari kepunahan badak,” ungkapnya.

Remaja ini tak ingin bila satu dari empat satwa kunci endemik asal Sumatra tersebut punah dari bumi. Jika hal itu terjadi, maka generasi seperti dirinya maupun seterusnya tidak akan pernah melihat satwa bercula dua itu lagi.

“Sayang anak cucu kita nanti tidak bisa sampai melihat bagaimana Badak itu nanti,” kata siswa MAN 4 Aceh Besar itu.

“Intinya jangan sampai badak itu hilang dari bumi lah,” imbuhnya.

Mengingat Badak Lewat Goresan Kuas

Selain Opal dan belasan remaja lainnya yang ikut memeriahkan Hari Badak Sedunia, di lingkungan kampus FKH juga digelar lomba mewarnai. Kompetisi itu diikuti oleh siswa sekolah dasar yang ada di Kota Banda Aceh.

Ditemani maskot badak, 31 siswa yang mengikuti kegiatan tersebut terlihat begitu leluasa mewarnai lukisan mereka. Mereka duduk bersaf di atas panggung yang berlatar dua lukisan bertema badak seukuran altar.

Mereka dikatakan Yoza Aminullah selaku Asisten Supervisor Edukasi FKL sekaligus panitia,  sengaja ikut dilibatkan dalam Hari Badak Sedunia, pada Kamis, 22 September 2022 ini. Tujuannya, agar para siswa itu sudah mengenal satwa dilindungi tersebut sejak dini.

“Karena mereka generasi-generasi baru. Mungkin mereka belum pernah melihat badak, jadi kita memperkenalkan apa itu badak sehingga mereka tahu badak itu seperti apa,” kata Yoza.

Badak merupakan salah satu hewan yang keberadaannya sangat penting. Oleh karena itu, dalam memperingati Hari Badak Sedunia, berbagai upaya sosialisasi terus digalakkan. Khususnya, membuat orang-orang mudah mengingat bahwa badak adalah satwa yang keberadaannya mulai terancam punah.

Mulai dari edukasi ke sekolah-sekolah, berbagi ilmu tentang badak melalui kelas konservasi, hingga perlombaan daring berupa infografis dan video singkat melalui media sosial.

“Di ekosistem kita itu menjadi hewan yang sangat penting dan keadaannya sekarang itu yang sama-sama perlu kita jaga dan kita lindungi bersama,” tutupnya.[]

PEWARTA: MUHAMMAD

spot_img

Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

INDEKS